Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah kondisi dimana asupan makanan tidak mampu memenuhi kebutuhan protein dan energi yang dibutuhkan oleh tubuh. KEP terbagi menjadi tiga jenis, yaitu marasmus, kwashiorkor, dan marasmic-kwashiorkor.1
Marasmus merupakan jenis KEP yang non-edema, marasmus disebabkan oleh kondisi kelaparan yang akut yang bisa menyebabkan pengurusan berat badan secara cepat. Kwashiorkor merupakan jenis KEP yang menyebabkan edema, kwashiorkor disebabkan oleh penurunan asupan protein yang cukup lama sehingga menyebabkan kondisi kekurangan protein kronis. Sedangkan jenis marasmic-kwashiorkor merupakan gabungan kedua jenis KEP yang ditandai dengan kekurangan energi dan protein yang cukup lama sehingga menyebabkan pengurusan berat badan dan terjadinya edema.1
Ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab KEP, yaitu faktor sosial dan ekonomi, faktor biologis, dan faktor lingkungan. Angka kemiskinan yang meningkat di masyarakat menyebabkan masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah kesulitan mendapatkan bahan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi tubuh. Selain itu kondisi lingkungan yang tidak sehat dan cara pengasuhan anak yang tidak tepat dapat menyebabkan seorang balita menderita KEP.1
Faktor biologis yang dapat menyebabkan KEP adalah adanya kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang diakibatkan dari malnutrisi intrauterus dan adanya kondisi infeksius seperti AIDS, tuberculosis, dan penyakit infeksius lain yang menyebabkan penurunan kadar protein dalam tubuh yang menyerang tubuh anak penderita KEP.1
Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan seorang anak menderita KEP adalah kondisi lingkungan yang penuh sesak serta kondisi alam yang tidak dapat dihindari seperti kekeringan, kebanjiran, kondisi perang, dan kondisi lainnya yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit dan kondisi kelaparan yang menyerang seorang anak. kondisi inilah yang kemudian akan menyebabkan seorang anak menderita KEP.1
Saat ini KEP merupakan masalah serius yang sedang dihadapi oleh Negara berkembang karena tingkat prevalensinya sangat tinggi. Kematian bayi pada umur 6 hingga 59 bulan di Negara berkembang di dominasi oleh kasus kekurangan nutrisi yang parah.1
Salah satu Negara berkembang yang sedang berusaha mengatasi angka kejadian KEP adalah Indonesia. Menurut data statistik Departemen Kesehatan Indonesia tahun 2005, ditemukan sekitar 14.500.000 penduduk Indonesia menderita KEP. Angka ini mencapai 6% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 241.973.879 jiwa. dari sekian banyak penduduk Indonesia yang menderita KEP, kebanyakan penderitanya adalah anak dibawah usia dibawah lima tahun (balita). Salah satu dampak dari KEP adalah meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas. 2
Menurut data WHO, angka kematian bayi yang disebabkan oleh KEP merupakan penyebab kematian balita tertinggi. Sekitar 2,2 juta balita meninggal setiap tahunnya karena menderita KEP.3
Selain menyebabkan kematian, KEP pun dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kerusakan tubuh manusia mulai dari tingkat sel. Gangguan pertumbuhan terjadi karena pada kasus KEP terjadi gangguan produksi hormon-hormon pertumbuhan. Hal ini dapat terjadi karena hormon-hormon pertumbuhan memerlukan asupan asam amino untuk proses sintesis hormon tersebut. Pada kasus KEP, asupan asam amino menjadi berkurang, akibatnya proses sintesis hormon-hormon pertumbuhan menjadi terhambat.1
KEP pun dapat menyebabkan kerusakan organ mulai dari tingkat sel. Hampir setiap sel penyusun jaringan dan organ memiliki komponen protein dalam struktur penyusunnya. Mulai dari membran plasma, sitoplasma, organel penyusun sel, hingga inti sel memiliki komponen protein dalam strukturnya. Jika tubuh manusia kekurangan asupan protein maka sel-sel dalam tubuh akan mengalami kerusakan dan akan melakukan prosesn adaptasi dan kompensasi dengan cara meningkatkan pemecahan protein dari protein cadangan yang tersimpan.1, 4
Pada kondisi KEP yang cukup parah, proses adaptasi yang akan dilakukan oleh tubuh adalah penurunan pengeluaran energi utama dan penggunaan sumber-sumber energi sekunder untuk menggantikan sumber energy utama yaitu glukosa. Sumber energi sekunder dapat berasal dari lemak yang tersimpan dalam sel adiposit dan juga pemecahan protein yang berada di otot dan hati. Pada kondisi normal, 75% asupan protein akan disimpan dalam hati dan 25% dipecah untuk proses metabolisme, tetapi jika asupan protein menurun tajam maka protein-protein yang berada dalam sel yang akan dipecah untuk kebutuhan pembentukan energi. Terjadinya pemecahan energy dari protein yang terus menerus dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang parah dan akibatnya akan mengganggu fungsi dari jaringan atau organ tersebut.1
Referensi:
1. Torn B. Protein-Energy Malnutrition. In: Shils ME, Shike M, Ross AC, Caballero B, Cousins RJ, editors. Modern Nutrition in Health and Disease. 10 ed: Lippincott Williams and Wilkins; 2006. p. 883.
2. siswono. 14 Juta Lebih Penduduk Indonesia Menderita Gizi Buruk. 2006; Available from: http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1141279793,12862,.
3. WHO. Severe Acute Malnutrition. 2009; Available from: http://www.who.int/nutrition/topics/malnutrition/en/.
4. Junqueira LC, Carneiro J. The Cytoplasm: Introduction. Basic Histology ‘Text & Atlas’: McGraw-Hill Medical; 2005.
5. Handelsman DJ, Staraj S. Testicular size: the effects of aging, malnutrition, and illness. J Androl. 1985 May 1, 1985;6(3):144-51.
6. Rosso P, Kava R. Effects of Food Restriction on Cardiac Output and Blood Flow to the Uterus and Placenta in the Pregnant Rat. J Nutr. 1980 December 1, 1980;110(12):2350-4.
7. Winick M, Rosso P. The Effect of Severe Early Malnutrition on Cellular Growth of Human Brain. Pediatric Research. 1969;3(2):181.
8. Guyton AC, Hall JE. Reproductive and Hormonal Functions of the Male (and Function of the Pineal Gland). Textbook of Medical Physiology. 11 ed: Saunders; 2005.
kekurangan energi protein, kurang energi protein, penyebab kep, angka kejadian kurang energi protein, kep balita, kasus-kasus kekurangan energi, energi protein, pengertian kep pada balita, pengertian kekurangan energi protein pada balita, kep adalahinfo lainnya tentang Kekurangan Energi Protein (KEP):
dapatkan domain gratis ber-ekstensi co.cc
cek ketersediaan nama domain:
Artikel Terkait:
kekurangan energi protein, kurang energi protein, penyebab kep, angka kejadian kurang energi protein, kep balita, kasus-kasus kekurangan energi, energi protein, pengertian kep pada balita, pengertian kekurangan energi protein pada balita, kep adalah





Kami telah berkunjung ke blog anda, dan mengetahui kalau blog anda ini cukup bagus. Saat ini, kami sedang memiliki rencana untuk memasang iklan di blog anda, bisakah anda memberikan informasi yang lebih detail tentang harga? Rencananya, kami ingin “membeli” sebuah artikel review sepanjang 100 kata saja dalam bahasa Indonesia untuk mereview salah satu situs kami yang juga berbahasa Indonesia. Setelah kami mendengar respon dari anda mengenai harga, maka kami akan memberikan informasi yang lebih lengkap, seperti anchor text, permalink dari situs yang akan di review, dsb. Terima kasih, mohon balasannya via email:
giredo@ymail.com