Tulisan ini saya salin dari majalah medicina (majalah mahasiswa dan alumni FK UNPAD) edisi November 1974. Kalau dulu medicina sekarang itu dikenal dengan medicinus. Nah judul tulisan ini adalah “MAHASISWA DAN WAKTU LUANG”, yaa cukup menggambarkan kondisi mahasiswa saat ini juga sih.
MAHASISWA DAN WAKTU LUANG
Anda sebagai orang yang beruntung berstatus sebagai “mahasiswa”, sesungguhnya hidup adalah ruang lingkup yang begitu menjemukan: buku, kuliah, ujian, dan segala embel-embel lain yang memusingkan kepala yang memang mudah dipusingkan. Lalu, bagaimana anda suatu saat mengalihkan kerja yang sangat menjemukan itu?
Adalah hal yang tak mungkin sekali bila seluruh waktu anda pergunakan untuk melalap habis semua buku dan kuliah anda. Kalaupun mungkin, anda akan menjadi seorang ahli hanya dalam satu bidang saja dan di luar itu anda senantiasa angkat bahu. Kita hidup dalam pengaruh lingkungan yang beragam-ragam bidangnya. Jadi menurut pemikiran akal yang sehat, mustahillah kita hanya berkecimpung dalam satu bidang saja. Dan sementara menunggu untuk tenggelam dalam buku-buku anda kembali, apa yang akan anda lakukan?
Anda adalah seoerang pelaku dalam ruang bumi ini. Anda adalah seorang pencari kebajikan, alam akan mencambuk dengan terik dan badai, tapi ia tak akan pernah mencari perlindungan, bahkan ia akan membuka matanya untuk mencari jalan kebenaran yang gelap pekat, jadi apabila anda suatu saat merasa tak mampu lagi mencernakan huruf-huruf dalam buku anda, itu adalah saatnya bagi anda untuk bertualang mencari kebenaran dan kebajikan. Bukanlah masanya bagi anda untuk mengisi waktu luang dalam termangu-mangu, sementara cuaca cerah di luar rumah. Sebab dalam ketermanguan dan kebosanan seperti itu, terkadang muncul kerisauan yang menggamit hati anda dan tercampaklah sejuta kegelisahan kedalam relung-relung benak anda dan kemudian anda akan merasa kecil sekali, bahkan tak ada artinya; adakah kemudian anda merasa lemah dan pengecut? Ya, tentu saja, sebab bila anda merasa langit kelabu menelungkup di atas ruang dan waktu yang melingkup anda, hal ini akan menggoyahkan arah hidup anda. Apalagi bagi diri anda yang jauh dari kesibukan yang berarti, ketermanguan dan ketidak tentuan akan menyudutkan anda ke dinding rongga kehancuran.
Adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah, bahwa pada suatu saat lagi, seperti halnya matahri yang terbit pagi demi pagi. Keluangan waktu itu datang lagi, dan anda tak mau mati dalam sepi, apa yang akan anda lakukan ? anda mungkin dapat saja berpengap harap, bahwa harapan anda tak pernah padam dan bahwa di perasaan penghabisan ada bintang harapan yang kemerlap, padahal entah dimana dan siapa yang sudi, menjual mimpi di simpang yang sesepi itu; kemudian sekali maka rantai pengharapan itu akan membelenggu anda dan saat itu anda baru yakin bahwa sekali tiba di ujung. Maka ratap penghabisan mudah terdekap dan lemahlah seluruh sendi anda bila harapan diserang kenyataan.
Memang benar, bahwa sebagian orang akan meluangkan waktunya yang begitu mengasyikkan, bagi mereka, waktu luang adalah waktu untuk menekuni kelambatan waktu yang berjalan merangkak dalam kesepian, walaupun hasil yang dicapai untuk mengimbangi energy yang telah dikeluarkannya adalah nol besar. Tidak sedikit pula orang yang meluangkan waktunny dengan menanti dan menekuni kedewasaan yang tak pernah datang, padahal kedewasaan itu tertanam dalam dirinya sendiri.
Sesungguhnyalah, bagi orang-orang yang pernah sukses, yang tahu artinya yakin dan mau, waktu luang itu tak pernah punah dan berlaku begitu saja. Sebab ia tahu bahwa begitu banyak yang harus ia ketahui dalam cakrawala hidup yang serba tak diketahui itu.
Seharusnyalah anda menjauhi waktu luang yang sepi, ini bukan berarti anda ingin mati atau melarikan diri, tapi anda mencari dan merenungkan apa yang terjadi dan kemudian memetik beberapa intisari.
****



